Kelas Inspirasi II: Cita-Citaku Nyangkut di Pohon Mangga, Kak.


@Behind my office desk, sehari setelah Kelas Inspirasi II.

Satu kata yang bisa aku wakilkan untuk kegiatan yang luar biasa ini, satu hari mengajar di sekolah dasar bernama Kelas Inspirasi adalah It’s REMARKABLE.

Kelas Inspirasi adalah sebuah acara yang luar biasa, digagas oleh Bapak Anis Baswedan melalui https://indonesiamengajar.org/, dengan mengundang para pekerja profesional turun ke lapangan berbagi cerita dan pengalaman selama sehari mengajar di sekolah dasar di Hari Inspirasi.

Tahun ini adalah Kelas Inspirasi II. Diselenggarakan serentak di Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Pekanbaru, Surabaya, dan Solo, 20 Februari 2013. Menyusul Kelas Inspirasi II yang akan diadakan di Kota Makassar.

And the story goes …

Beberapa hari lalu aku mendapat bb dari teman tentang pendaftaran Kelas Inspirasi II di Solo. Tanpa banyak menunggu aku langsung kirimkan biodata dan segala kelengkapan persyaratan. Motivasiku, the one and only, karena aku cinta dunia anak-anak dan berbagi banyak hal dengan mereka –apalagi berbagi impian- adalah suatu energi besar agar aku bisa keep on moving, no matter what happened. Life, sometimes is sucks, hehe!

Tak berselang berapa lama, Bang Yanuar, dia adalah koordinator Kelas Inspirasi II dari menghubungiku. Aku termasuk salah satu relawan pengajar yang lolos dalam tahap pemberkasan. Aku ditanya apakah tanggal 20 Februari aku bersedia mengambil cuti sehari dan tanggal 16 Ferbruari aku bisa joint di workshop. “Fine,” I said.

***

Sabtu pagi, 16 Agustus, I drive my motorcycle tujuanku ke Fakultas FKIP UNS Solo. Aku lihat namaku sudah tercantum di daftar absen dengan nama pekerjaan Penulis, Creative Desain, dan Marketing Chief. Lengkap bukan? ^_^ Not an expert indeed, tetapi aku percaya, ‘Sesuatu yang kecil akan bisa lebih inspire ketika kita memberikan dengan hati dan cara yang terbaik.’

Panitia relawan dari http://solomengajar.org/sangat ramah menunjukkan meja kelompok tempat aku duduk. SD Bibis Wetan, tercantum di kertas di atas meja kelompok. Tak berapa datang Mr. Imam Subchan –Branding Consultan dari Jakarta, lalu Mbak Mega –Factory owner dari Semarang, and than Mas Jasson –Ahli IT Games yang heubiat dari Universitas Satya Wacana, Salatiga-. Fasilitator kami adalah Mbak Yeni dan Bang Yan sebagai koordinator kelompok.

Ada 8 vols –sebutan untuk para volunteer- di kelompokku. Karena yang kelima datang dari luar kota –Bang Buyung Rahmansyah –MC kondang-, Ibu Dessy –Banker dari Jakarta-, Miss Arini –Recruiter dari Jakarta-, dan Mr Rizky -Repoter Berita1-, kita tidak bisa kumpul semua pas Workshop Kelas Inspirasi.

Ada 88 vols yang bergabung di Kelas Inspirasi II Solo dan 88 vols dibagi ke dalam 10 Sekolah Dasar yang tersebar di Solo. Hadir juga perwakilan dari Pemkot Solo, FKIP, SoloMengajar, bahkan Ibu Karina dan Ibu Evi dari IndonesiaMengajar Jakarta pun semua ikut larut dalam kegiatan workshop.

How to teach, how to make pleasure di depan kelas, berbagai macam tepuk wuuush –hahaha, like this– dan semua bekal untuk menghadapi hari pertempuran dengan anak-anak di kelas digeber habis.

Kegembiraan dan kecemasan menghadapi adik-adik di kelas menjadi sebuah diskusi yang luar biasa meriah hingga siang. Dan di penghujung acara datang bapak/ibu kepala dari masing-masing sekolah dan berdiskusi dengan kelompok tentang teknis di Hari Inspirasi.

I admit I never been met with the great day before such as like this day!

Malam Hari Sebelum Hari Inspirasi

Bisa bayangin gag, sih, mengajar murid sekolah dasar dari kelas 6 sampai dengan 1 dengan segala ramai dan perniknya. Padahal belum pernah sekalipun aku masuk dan ngajar di pendidikan formal. Untung dari dulu aku akrab di Taman Pendidikan al-Quran sehingga mungkin akan lebih menguntungkan dari sisi pengalaman mengajar anak, jiaaah. Apa iya, sih? *Jujur mulai keder*

Kalau kelas 3 sampai 6 mungkin akan lebih ‘gampang’ cara ngajarnya. Lah, kalau kelas 1 dan 2? Bagaimana cara neranginnya? Aku harus berpikir cerdas!

Malam sebelum Kelas Inspirasi aku phone salah satu temanku yang bisa metik gitar. Akhirnya sebuah lagu berhasil kita mainkan dengan baik –I’m a singer2. Hihi.-

Here this lyric:

PECI, Penulis Cilik Indonesia.
Merenda masa dan lukiskan karya. Goreskan penamu raihlah cita. Akan kau wujudkan di masa depan.
Kita bersama, membangun cita. Kita bersama, membangun bangsa. Kita penulis cilik Indonesia. Terus berkarya sepanjang masa.

A simple song, isn’t it?

Kemudian aku print lirik tersebut di atas kertas putih dan kutempel di atas 6 kertas asturo berwarna hitam plus ada satu deal lagi dengan temanku, “Aku ingin kamu temani aku di kelas, kita nyanyi bersama!” *Pintaku sampai meleleh. Hehe.*

Aku harus bisa menaklukkan anak-anak di kelas! Perang dingin berkecamuk di dalam dadaku, jiaaah!

Di Hari Inspirasi

Cloudy morning. Kukebut motorku, mata masih luruh dalam kantuk. Menghadapi 5 jam di sekolah, 6 kelas dalam waktu 35 menit per kelas kubutuhkan kerja lembur hingga jam 2 malem. Haha.

Setelah muter cari alamat, akhirnya aku temukan alamat SD Bibis Wetan. Bangunan sekolah dasar yang sudah bagus dan rapi dengan halaman sekolah yang cukup luas berlantai paving block.

Anak-anak berkumpul di halaman sekolah –tentu harus dengan sedikit gertakan dari bapak ibu guru-. Ada 176 murid di halaman, wooow. Vols masih kaku, don’t know what we’ve to do. Harus melakukan ice breaking, nih! Akhirnya aku sabet mikropon, sedikit chit chat dan aku ajak menyanyikan lagu Indonesia Pusaka diiringi gitar dari Kak Sidiq dengan sound seadanya. Well done, berhasil ternyata. Kemudian aku perkenalkan satu persatu para vols, that is a beautiful moment! Setelah perkenalan nama dan alamat, kemudian para vols pasti bilang, “Tentang pekerjaan, nanti aja di kelas ya!”

Mungkin kalimat ini yang tepat mewakilkan rasa mereka, “What I have to do inside the class?” *_^

Time in a class. Entering Fifth grade.
Haha, aku langsung ketemu dengan isu sara. Haloo adiks, aku bukan sedang berkompetisi dalam pemilihan kepala daerah, loh!
Ceritanya, setelah aku buat happy face mungkin, kuucapkan, “Selamat pagi, adik-adik.”
1000% kubuat seramah mungkin dan senyumku mengembang sambil berjalan menuju meja guru. Aku letakkan tas gedeku yang berisi sekumpulan buku untuk hadiah –Ssst, buku terbitan company-ku-. Karena dilarang berpromosi di dalam kegiatan ini.
Segera kuucapkan kalimat pembuka, “Salam sejahtera untuk semuanya.”
Eh, sebelum aku merampungkan kalimatku. Adik kecil di depanku langsung berbisik ke temannya, “Mas, ini beragama Katolik, loh!”
Aduh, kemudian aku ucapkan, “Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh ….” Walaa, adik satunya lantang berkata, “Dia beragama Islam, tau!”
Ups! Kena isu SARA, nih. Itu pelajaran pertama dari Kelas Inspirasi. So, jangan coba-coba, ya! Harus di area aman, nih.
Kemudian aku ajak mereka bernyanyi bersama. Dan aneh, aja, ternyata laguku langsung bisa dinyanyikan oleh mereka. Pintar!!!
Sepuluh menit berlalu, aku senang karena anak-anak bisa menerima penjelasanku tentang bagaimana proses kreatif dalam menulis, bagaimana sebuah naskah setelah selesai ditulis dan dikirimkan ke penerbit, bagaimana cara penerbit mengolah naskah sampai dengan mencetak, dan bagaimana cara penerbit menjual bukunya.
They are very interested!
Aku ajak pula mereka bercerita dengan tema si ‘fulan’ yang lagi galau. Fulan aku ambilkan dari nama salah seorang murid. Ku buat semenarik dan selucu mungkin, menjadi badutlah aku. Mereka tertawa bersama, ah luar biasa senangnya.
Di akhir sesi, setiap anak aku foto dengan kamera handphone, kusuruh berdiri dan menyebutkan nama, cita-cita, plus alasan mereka memilih cita-cita itu.
“Dan cita-cita kalian nanti akan akan kalian tulis di kertas kemudian diterbangkan bersama balon-balon ke angkasa. Biarkan Tuhan mendengar dan mengabulkan cita-cita kalian,” pesanku.
“Horeeeeeee,” mereka berteriak kencang dan sangat bersemangat.

***

Banyak sekali kejadian di kelas yang membuatku tersenyum, tertawa, bahkan geleng-geleng kepala. Anak-anak ini bukan nakal, tapi terlalu kreatif. Anak-anak ini bukan tidak bisa diam, tapi terlalu banyak vocabulary. Tingkah polah mereka benar-benar membuatku berpikir, “Bagaimana bisa para guru, seorang pahlawan tanpa tanda jasa, bertahan selama puluhan tahun untuk mengabdi di sini? Belajar dan bermain dengan emosi mereka? Woow, luar biasa!”

Entering Fourth grade.

Masuk kelas 4. Ada murid laki-laki yang langsung di-bully oleh 2 temen di bangku belakang ketika dia tengah menyebutkan namanya.
Hm, langsung aku dekati dan aku tanya cita-cita dia. Dengan malu dia bilang, “Aku mau jadi pembalap, Pak Guru.”
“Kalau kalian mau jadi, apa adik-adik?” Kuhampiri juga 2 teman di belakangnya.
“Kita mau jadi pemain sepak bola!” berkata dengan keras.
“Nah, kalau di dalam olahraga, kan, harus fair play dan sportif. Tidak boleh menjelek-jelekan pemain satu dan yang lain. Apalagi berkelahi dengan team cabang lain. Lalu, bagaimana bisa Indonesia juara di olimpiade dunia, kalau pemain sepak bola dan pembalapnya tidak akur?” Mereka mengangguk tanda paham.  Bener nggak nasehatku? *Bingung dengan spontan*

Entering third-class.

Begitu masuk kelas tiga, langsung ada anak berantem. Aduh. Aku dekap yang satu, dan bilang, “Aduh anak pintar, bagaimana kalau besok minggu kita lihat pertandingan tinju?”
“Dimana, Kak?” Serempak bilang.
“Di TV ….” Aku pasang mimik lucu. Perkelahian pun berakhir.
“Cita-citamu jadi apa sayang?” Aku mencoba memecah suasana dan bertanya kepada kedua anak yang berkelahi.
“Jadi pemain barongsai.” Aku diam dan manyun. Pantas! *_^

Entering Second-class.
Ini kelas yang paling nyebelin karena nyuekin aku. *Hahaha* Bagaimana tidak? Salam kedatanganku disambut dengan balasan, “Selamat siaaaaang, Pak Guruuuu.” Tapi mulut mereka penuh dengan makan siang.
“Kak, mau ayam? Mau bakmi? Mau burger?” Lengkaaaaap, semua murid nawarin aku makan.
Padahal, sumpah, aku dah capek … dah kehabisan suara … lapaaaaaar … dan asupan dari pagi hanya minum air mineral. *Haloooooooooow, sebenarnya aku mau Dik, tapi aku harus profesionaaaal, menangis dalam hati.*
Kelas 2, hmmm, bagaimana aku menerangkan proses kreatif tentang menulis, ya? Ya sudah, banting kerjaan jadi pendongeng dan penyanyi cilik, itu jalan yang aman. *Hahaha*. 35 menit kulampaui dengan nafas tersengal-sengal. Haduh.

Entering First-class.
Seragam sekolah kelas satu lain sendiri. Apalagi cara membaca syair PECI. Beda pengucapan dan beda arti pula. Maklum, dieja! *^*
Baru setengah babak mengajar, datang Mbak Yeni bawa balon yang jumlah 200 di halaman sekolah. “Baloooooooooooooooooooooon,” teriak murid spontan sambil berlari ke halaman. Hampir sekelas meninggalkanku.
“Ini bagaimanaaaaaaaaa,” aku hanya bisa geleng-geleng.
Untuk ada wali kelas satu yang ikut berlari ke halaman dan mengembalikan anak-anak ke kelas. Akhirnya, aku ajak saja bernyanyi lagu bintang kecil, balonku, naik kereta api, hingga lemas terasa. Hahaha.
Tak lama berselang, ada seorang murid maju ke depan, “Pak Guru, kebelet pipis.”
“Oh, mau pipis? Ya sudah ke kamar mandi saja!” Nasihatku.
Belum si adik beranjak. Hampir separo kelas berdiri dan memegang bagian bawah, “Aku jugaaaaaa.”
Ke luar lagi ditinggalin. * Speechless, bener dah, hahahahaha.*
Untung di luar pintu sudah ada Bu Guru yang siap menghadang.
“Ayo, pipis kok rombongan. Kolah –kamar mandi- mana muaaaat?” dengan nada mara-mara luar biasa.
Haduuuuh, what cant I do now?

Entering Sixth grade.
Kelas terakhir yang menjadi tugasku. Shock! Karena murid-murid kelas enam rata-rata bertubuh besar. Masuk remaja. Bahkan beberapa anak sudah pegang handphone. Cerita si ‘fulan’ galau pun berubah menjadi ‘galau’ karena pacaran. *Haduh.*
Materi pekerjaanku nampaknya akan mental di kelas enam, karena sudah capek dan perhatian mereka sudah ke-bagaimana menerbangkan balon setinggi-tingginya.
Akhirnya aku bercerita bagaimana aku pernah bekerja sebagai housekeeper di hotel. Walaa. Gag nyambung, 180 derajat berubah halauan. Yang penting berhasil mendiamkan mereka. Toh, semua pekerjaan adalah mulia.

Sebuah Pelajaran Berharga

Kelas Inspirasi bagiku tidak hanya para profesional yang bisa menginspirasi adik-adik, justru kita sebagai profesional yang lebih banyak diinspirasi oleh adik-adik melalui polah mereka.
Terpenting adalah bagaimana sebuah impresi itu harus lebih diutamakan daripada how to teach them in a class.
Sebuah kesan pertama yang benar-benar bisa dilihat dengan visual oleh adik-adik ketika sosok kita telah berdiri di pintu masuk kelas. Jika kesan pertama saja tidak bisa kita ciptakan, metode mengajar terhebat apapun akan gagal diberikan.
Kelas Inspirasi II hampir selesai, kami berkumpul di halaman sekolah. Saatnya menerbangkan balon cita-cita.
Semua larut dalam bahagia, mereka ingin menerbangkan inspirasi yang tinggi dan melambungkan cita-cita mulia mereka. Saling berebut warna balon semakin menambah gembira suasana.
Saatnya balon terbang, horeeeeeeeeeeeeeeeeeeee! Moment ini sungguh luar biasa.
Satu anak mendekatiku, “Kak, tolong terbangkan balonku!”
Aku lihat balonnya terperangkap di pohon mangga. Aku tersenyum, “Ayoo! Kita terbangkan cita-citamu.”
Balon itu aku raih dan akhirnya terbang tinggi.
Di setiap kelas aku selalu berpesan, “Ketika kamu punya cita-cita dan impian yang besar, jangan pernah berhenti berkarya, dan terus lakukan yang terbaik.”

S*E*L*E*S*A*I.

Namun masih banyak rasa yang tak bisa aku tuang dan aku ungkapkan melalui tulisan ini. No doubt! Semua terlalu cepat jika hanya satu hari menginspirasi. Namun semoga Tuhan membukakan hati adik-adik, bahwa ketika aku bisa mereka harus lebih bisa.

Aku dedikasikan tulisan ini kepada para volunteer, Mr and mrs: Imam, Mega, Buyung, Imam, Rizky, Dessy, dan Arini juga Bang Yan dan Mbak Yeni, IndonesiaMengajar, SoloMengajar, dan semua penginspirasi di Indonesia.

Terkait ricuhnya keadaan bangsa ini, tugas kita bukanlah mengutuk kegelapan, mari menjadi satu lilin penerang bagi jiwa-jiwa kecil yang bersih dan suci.

You are the great team. Banyak yang bisa di-learning dari masing-masing kita. Bertemu lagi adalah sebuah keharusan. Never stop for giving an inspiration!

Salam Inspirasi.

Lilik Kurniawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *