Garuda di Dadaku (Part 2)

Siapa yang Salah?

Jika ditanya siapa yang salah?

  • Wah, tentunya pemerintah! –ini versi yang antipemerintah- Hehe. Semua salah Pak Jokowi. #halah
  • Guru-guru sekolah? Wah ini kejam.

Ingat tidak? Bagi generasi 90-an, siapa yang tidak kenal dengan Penataran P4, Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (disingkat P4) atau Eka Prasetya Pancakarsa adalah sebuah panduan tentang pengamalan Pancasila dalam kehidupan bernegara.

Saat ini produk hukum ini tidak berlaku lagi karena Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 telah dicabut dengan Ketetapan MPR no XVIII/MPR/1998 seiring jalannya Reformasi.

PMP (Pendidikan Moral Pancasila), buku pelajaran yang tidak begitu putih lembar-lembar halamannya, bahkan ada serabut-serabut hitam di setiap lembarnya terbitan Balai Pustaka, dahulu adalah sahabat para pelajar. Kini telah beralih menjadi mata pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaran) yang tentu subtansinya bergeser sesuai perkembangan kebutuhan bernegara.

Jadi, bukan tentang siapa yang salah, apalagi bapak dan ibu guru, melainkan tanggung jawab kita semua untuk mengembalikan –kembali- Garuda Pancasila di dada kita.

Seekor burung yang gagah sebagai kendaraan Wisnu yang amat termasyur di mitologi kuno dalam sejarah bangsa Indonesia.

Dan, bukan Garuda sebagai lambang negara -saja-, yang diatur dalam UU No. 24 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa: “Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia berbentuk Garuda Pancasila yang kepalanya menoleh lurus ke sebelah kanan, perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika ditulis diatas pita yang dicengkeram oleh Garuda”.

 

Bagaimana Ini, Pak Jokowi!

Nah, kabar baiknya adalah pemerintahan Jokowi JK tengah menyiapkan rancangan peraturan presiden tentang penetapan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila. Selanjutnya, setiap tanggal 1 Juni akan ditetapkan sebagai hari libur nasional (mulai tahun depan).

“Presiden Jokowi tak hanya menginginkan Pancasila dikenang dan diperingati atau hanya dilestarikan, tetapi juga benar-benar menjadi realitas dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia di berbagai aspek kehidupan,” tutur Pramono Anung, Sekretaris Kabinet, seperti dikutip Kompas, Rabu (25/5/2016).

Dan tepat hari ini, Senin, 1 Juni 2016, 71 tahun sudah usia peringatan hari lahirnya Pancasila. Hari yang sama, saat Presiden Republik Indonesia pertama, Ir Soekarno, berpidato di depan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang kemudian dikenang sebagai hari lahirnya Pancasila.

“Dasar negara, yakni dasar untuk di atasnya didirikan Indonesia Merdeka, haruslah kokoh kuat sehingga tak mudah digoyahkan. Bahwa dasar negara itu hendaknya jiwa, pikiran-pikiran yang sedalam-dalamnya, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Dasar negara Indonesia hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia dengan sifat-sifat yang mutlak keindonesiaannya dan sekalian itu dapat pula mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, aliran, dan golongan penduduk.”

“Dasar negara yang saya usulkan. Lima bilangannya. Inilah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya menamakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa (Muhammad Yamin) namanya Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia kekal dan abadi.”

Pancasila:

  1. Ketuhanan yang maha esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Siapa yang masih belum hafal?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *