Garuda di Dadaku (Part 1)

Merapi,
Puncak Garuda.
Meski ragamu telah ditelan bencana.
Semangatmu akan selalu tersemat di dalam dada.
 
Pasar Bubrah,
Merapi – Boyolali
1 Juni, 2930 mdpl

Siapa pun ingin menaklukkan Puncak Garuda, berdiri gagah di atasnya. Melihat hamparan alam dan puncak gunung lainnya: Merbabu, Sumbing, Sindoro, Ungaran, Telemoyo, dan Lawu. Sungguh berkah yang luar biasa.

Begitu juga dengan Eri Yunanto, seorang mahasiswa Atmajaya, sang pecinta alam yang harus kembali ‘pulang’ setelah menaklukkan puncaknya. Raga boleh sirna, tetapi semangat harus tetap menyala.

Semangat Eri, adalah Semangat Pancasila.

Belakangan banyak hal-hal yang –yang sebenarnya tidak lucu- berkaitan dengan lambang negara Indonesia, Pancasila.

Masih teringat, kasus ‘bebek nungging’nya Zaskia Gotik, seorang penyanyi dangdut yang ‘terpeleset’ kasus pelecehan terhadap lambang negara. Yang kemudian beberapa pihak -yang tidak terima- berupaya menggiringnya ke ranah hukum. Dan di akhir cerita, sang penyanyi diangkat menjadi Duta Pancasila oleh salah satu fraksi partai politik di parlemen. Dengan dalih, hukuman yang paling ‘pas’ bagi Zaskia adalah dengan belajar keras memahami dan menghapal Pancasila.

Dan cerita selanjutnya, ‘Siapa yang peduli?” 🙂

Kasus berikutnya, ialah kejadian menggelikan saat Presiden Joko Widodo menghadiri acara peringatan Isra Mi’raj di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang. Di sesi ketiga, salah satu santri diminta ke depan untuk menghafalkan Pancasila. Bisa ditebak, santri tersebut –karena mungkin saking groginya- tidak hafal dengan benar sila Pancasila. Namun jangan salah, karena satu buah unit sepeda tetap sah menjadi miliknya.

Ada yang mau?

Kasus berikutnya dan berikutnya adalah sekumpulan anak alay yang dengan ‘gagah berani’ melakukan perbuatan yang bikin eneg, di Monumen Pancasila Sakti, di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Jadi, Jika Semangat Eri Yunanto adalah Semangat Pancasila, lalu semangat macam , ya, di atas? 🙂

Mari kita menghargai sejarah bangsa, karena Bung Karno pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *