KUCIR RAMBUT SITI

Mendung di langit utara terlihat muram. Sudah sempat sebentar bulir-bulir air turun. Tapi tak lama. Sedang pagi selalu menawarkan harapan yang tak pernah bisa tereka. Apa yang terjadi siang nanti. Tak ada yang tahu. Aku dan beberapa kawan terlalu sibuk dengan teh masing-masing. Karena mungkin juga lewat uap teh panas, harapan menjadi sedikit lebih terang dari biasanya. Bukan karena sudah bisa menerka siang. Tapi karena selalu ada lega setiap menghela uap-uap teh panas tersebut. “Mas, nanti aku bareng Mas Adit ya”, hening dan syahdu pagi itu memang harus terpecahkan dengan suara khas Selvy yang cempreng. Wanita asal Palembang yang tak bisa dibilang kurus itu selalu nampak ceria. Dengan mengalungi dua kamera DSLR bak profesional fotografer, justru ia terlihat semakin lucu. “Okay, semoga motornya kuat ya”, selorohku kemudian. Maklum, dengan jalan yang berkelok dan menukik tajam, siapa tak takut menunggang motor matic bersama dengan kesuburan seorang wanita. Ya, engkau tahu kesuburan yang kumaksud.

Enam orang. Kuhitung satu persatu para pemegang predikat inspirator itu. Termasuk aku sendiri. Meskipun secara pribadi aku tak pernah nyaman aku dengan bermacam-macam predikat. Pernah aku dinilai terlalu sinis. Hanya karena memandang predikat adalah bukti ke-takhayul-an manusia. Predikat hanya dicipta untuk melabeli manusia. Sedang, bahkan nama adalah hanya konsensus orang tua kita dengan lingkungan sekitar. Pun dengan predikat. Sungguh perbuatan orang yang sedang sangat longgar waktunya. Menempatkan sesuatu yang nisbi di atas kenisbian itu sendiri. Enam orang. Mas Emji, Mbak Virtrie, Mas Agung, Pak Ulil, Kang Asep dan aku sendiri tepat berada di atas jok motor masing-masing. Motor pertama menderu, menggilas dingin dan kabut Selo. Motor pertama itu milik si empunya, Saka. Salah seorang fasilitator di Kelas Inspirasi Boyolali. Motor-motor lain seolah iri dan ikut melolong melalui knalpot belakang. Asap knapot hanya yang tertinggal kemudian. Karena setelah motor pertama berlalu, motor yang lain beriringan mengikuti dan ikut campur menyelinap di antara kabut dan dingin pagi.

“Kita belok sini, sekolah nya nanti di ujung”, Saka berteriak memberi komando. Bagiku teriakannya seperti peng-amin-an malaikat pembawa berita. Tentu tak serupa, tapi imajinasiku terhadap jalan yang menanjak dan berkelok tajam menjadi kenyataan dalam sekejap. Di depan mata terpampang jalan mungil dengan jurang yang ditanami tembakau. Kalaulah hujan jadi menyapa, tentu lebih licin dan bahaya. Roda motorku mulai berputar. Rengekan mesin mulai kentara. Meraung-raung seolah dirudapaksa. Ah tapi biarlah. Biar motor ini sesekali merasakan pemerkosaan dan menjadi tak manja. Bukankah sekolah yang kutuju juga korban perkosaan dari kekuasaan. Diperlakukan dengan minim perhatian dan seolah tanpa beban membiarkan murid-muridnya minim wawasan.

Setengah jalan, cahaya matahari serupa jari-jari perkasa menembus awan. Daun-daun, meski masih kedinginan juga tersenyum mendapat sedikit hangat. Kutemui anak-anak kecil dengan kaki-kakinya menapak keras di atas beton. Mendaki setapak demi setapak. Anak-anak adalah potret kesejatian. Bagi mereka hanya ada ingin. Dan mereka nampaknya masih ingin sekolah. Kalau tidak, rasanya sulit mencari alasan untuk sekedar berjalan naik turun bukit terjal. “Halo adik-adik!”, suara Selvy kembali tumpah ruah di lembah Merbabu. Menyapa wajah-wajah polos mereka yang dibalut seragam pramuka. Hanya ada senyum dan tanda tanya. Di benak mereka mungkin sedang berkecamuk tentang apa yang akan ada di kelas mereka hari ini. Tak jelas terdengar jawaban. Tapi aku sendiri mendengar satu di antara mereka membalas “Hai!”. Kuamati. Dia agak berbeda dari yang lain. Rambut dikucir sederhana ke belakang dengan perawakan yang lebih tinggi dari anak seusianya.

Kami sampai dan sementara matahari nampak tak malu-malu lagi. Disapanya tetes-tetes air yang masih tertinggal di pucuk daun tembakau. Dan bunga wortel bersenandung pelan. Menari bersama angin yang semilir, tapi tetap dingin. Bangunan itu nampak familiar. Sebuah sekolah dengan dinding yang mulai retak dan tembok pagar yang sebagian jatuh karena erosi. Berbeda dengan bunga wortel, ia bersenandungkan rintihan. “Selamat pagi, Mas”, begitu ramah sapanya. Yang baru kuketahui kemudian bahwa ia bernama Pak Riyanto. Seorang guru yang sebelas tahun mengabdi di kaki gunung Merbabu. Sebagai guru, dia nampak seperti umumnya. Tapi dia mendapat simpatiku pagi itu. Tak mudah menebar harapan di sekolah yang dikepung tembakau dan sayur mayur. Dan tentu kau paham. Tiada yang salah dengan tembakau dan sayur yang sangat subur. Kesalahan adalah jika orang tua mereka mengikat pikiran-pikiran kecil itu di tangkai-tangkainya. Dan tak ada masa depan kecuali adalah menjadi seperti mereka. Imajinasi mereka adalah embun, dan sempitnya wawasan orangtua selalu menguapkan dan menghilangkan kesegaran mimpi. “Pagi, Pak. Perkenalkan saya Adit”. Tanganku kuulurkan menjabat telapak beliau. Sungguh simpatiku bertambah besar, ketika kutahu bahwa kepala sekolah memang tak setiap hari datang dan guru tak pernah cukup untuk mengajar enam kelas.

“Siapa namamu, Dik?”. Tatapku tak bisa jauh dari kesederhanaan kuciran rambutnya. Matanya adalah serupa gemuruh. Bersaut-saut ingin tahu, tapi kadung ditelan perasaan malunya. Khas gadis mungil dari desa di cerita-cerita remaja. Dia adalah gadis kecil yang membalas sapaan Selvy waktu kami berkendara menuju sekolah ini. “Siti, Kak”. Akhirnya kutahu namanya Siti. Tersenyum dan ditelan sautan temannya, ia perlahan menghilang.

**********
“Setelah ini kak Adit mengajar di kelas lima ya”. Tessa. Ia nampak hilir mudik mengatur acara ini. Sama seperti Saka, dia ini seorang fasilitator. Aku mempercepat langkahku menuju kelas lima. Langkahku tercekat sesaat setelah membuka pintu kelas. Di ujung, dengan kuciran rambut sederhana, Siti menawanku sesaat. Tentu aku tak mengidap pedofilia. Sejarah pacaran masa lampau ku hampir selalu diisi wanita yang berusia lebih dewasa. Tapi anak ini, dia menawanku dengan sebuah cerita yang tak usai dalam hidupnya. Entah apa. Kalaulah saja dia mau bercerita seperti beberapa temannya yang berlainan kelas, tentu rasa penasaranku tak perlu menjelma kutu-kutu rambut. Semakin ingin dicari, semakin penasaran. Sama seperti kelas sebelumnya, aku bercerita tentang biografiku. Pemuda desa kecil yang harus menjual telor asin untuk melanjutkan sekolah. Aku rasa tak istimewa dengan ceritaku. Banyak cerita yang lebih menguras empati jika kau benar-benar sekedar ingin menangis manja. Toh lagipula aku menjual telor asin karena memang saat itu ekonomi keluarga menjadi tak seperti biasa. Karena biasanya aku abai tentang urusan finansial keluarga.

Kututup cerita dengan sebuah pesan. Minta restu pada orang tua. Di antara murid-murid di hadapanku, kulihat Siti menjiplak ekspresiku saat memasuki kelas. Ia tercekat. Ada periode keheningan antara pikiran dan hatinya. Aku sangat hapal ekspresi itu. Ekspresi wanita saat mendapat surprise. Kulihat rona-rona serupa pada wanita yang pernah dekat denganku. Entah bunda Maria. Apakah ia mempunyai raut yang senada ketika kehamilannya datang tanpa kabar seorang pria.

“Kenapa Siti?” tanyaku mencoba menyusun puzzle rasa ingin tahuku. “Kak”. Ia seperti mendengus. Sangat pelan tapi cukup untuk menggetarkan gendang telingaku sehingga aku masih mendengarnya. “Apakah Siti tak bisa meraih cita-cita karena Siti tak punya restu?”. “Maksudmu?”, pertanyaannya semakin membuatku bertanya-tanya. “Iya, apakah aku tak bisa memiliki restu karena ibuku telah tiada?”. Oh Siti. Kau sungguh sederhana. Kuciran rambutmu adalah simbolisme semata dari kekhusyukan kesederhanaanmu. Tak ada klimaks apapun. Tapi pertanyaanmu cukup membuat awan-awan mendung berarak dan dipancang di sudut mataku. Sungguh siapapun bisa tak mempunyai Ibu. Tapi engkau mempunyai syarat untuk membangkitkan empatiku. Syarat itu adalah rasa ingin tahu mu yang selalu dibalut malu-malu. Sama seperti.. maaf Siti. Ini alasan pribadiku. Engkau seperti muridku di Padang Pariaman sana yang telah tiada. Bedanya bahwa ia laki-laki. Tentu ia seusiamu jika masih hidup. Dan justru karena dia lebih aktif bertanya dan kau mempunyai antitesa dari sekian sikapnya, kenangan itu meleleh meluncur seperti pijar lava Merapi sana. “Tentu Nak. Siti, dengarkan Kakak. Pergilah kau ke makam Ibumu setelah ini. Sampaikan dan mintalah restu pada Ibumu. Dan ingatlah. Temui dia seusai sholatmu. Dia akan sangat gembira kau sapa dengan doa”. Aku merapal nasihat untuknya. Tanganku mengusap-usap kepala mungilnya dan tak perlu menanti lama, senyumnya kembali merekah seperti kuncup bunga kantil yang lelah dan terbuka kelopaknya. Ia sungguh sangat sederhana. Sedih dan tawa seperti dipermainkan dalam kejujuran perasaan bocahnya. Dan saat bel masuk kelas berbunyi, penasaranku yang ternyata adalah tawanan kenangan tempo lalu, berlalu seperti rambutmu yang bergerak kanan kiri dan semakin jauh. Kuciran rambut biru muda dan dikenakan sekenanya, sekedar bahwa rambutmu terikat saja. Dan aku juga berlalu lega, dengan merelakan awan yang bergelayut di sudut mata menjadi gerimis sambil membenarkan letak rambutku yang tergerai senantiasa.

************
Saat perjalananku kembali ke Jogja, mataku hanya memandang aspal keras. Pikiranku bertubrukan dengan jalanan senja itu. Pecah dan berkeping. Dan setiap kepingan memutar rekaman kisah-kisah serupa Siti yang kutemui sejak aku memutuskan untuk semakin sibuk mengenal masyarakat. Siti adalah telaga Nirmala yang memantulkan wajah pendidikan kita. Pendidikan yang sejatinya memerdekakan justru menjadi lembaga formalitas program pemerintah saja. Buruknya, justru sekolah terpencil adalah hanya ajang tempat beberapa manusia meniti tangga karir. Sedang anak-anak didiknya, tak peduli entah berujung kemana. Kita memang tak pernah bisa menentukan nasib. Tak akan pernah. Dan pendidikan bukan wahana mengubah nasib. Ia bukan bianglala yang memberimu peluang yang hampir pasti akan naik dan turunnya posisi. Pendidikan hanyalah sekedar tempat cerita. Ya. Sekedar tempat cerita bagi imajinasi dan kreasi. Terserah bagaimana akhirnya kau bercerita. Dengan suaramu, karyamu, pikiranmu, bahkan dengan angan-angan dan cita mu.
Dan untukmu Siti, semesta ini layaknya Ibu. Maka tersebutlah ia sebagai Ibu bumi. Maka berceritalah kepadanya. Kepada daun-daun adas sebelum kau jadikan lalapan, kepada batu gunung yang kadang memberimu hiburan gratis dengan pijar-pijar lavanya, atau kepada tembakau sebelum akhirnya bermuara sebagai asap yang menyentuh cakrawala. Tak perlu kuceritakan tentang Tuhan di atas sana. Dia pasti mendengarmu. Bahkan pasti melihat kucir rambut biru sederhanamu.

Mobilku melaju cepat. Ditemani diskusi dengan Virtrie dan berbicara tentang filosofi dan teologi. Tapi kau Siti, sehari menemani pikiran liarku tentang mengabdi. Oh iya. Kau tak lupa memanggil namaku sebelum aku beranjak pergi. Sambil kau kecup tanganku dan doaku menyertai.

Yogyakarta, 13.09.2016

One thought on “KUCIR RAMBUT SITI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *